Contoh Panyandra/Panyondro Kirab Kanarendran

 TULADHA PANYANDRA KIRAB KANARENDRAN 


Contohtekspranatacaraterbaru.com - Kirab kanarendran merupakan kirab yang diadakan setelah beberapa saat mempelai berada di kursi pelaminan. Kedua orang tua dari pihak pengantin laki-laki dan perempuan masih berada di atas membersamai.  Setelah dirasa cukup maka bersama seluruh dayang dan orang tua akan turun menuju kamar ganti. 

Prosesi turun  menuju ke kamar ganti itulah yang disebut kirab kanarendran. Kirab ini meniru kebiasaan keraton tatkala raja di singgasana sudah merasa lelah dan butuh istirahat maka akan diantar ke kamar. 

Prosesi kirab ini baiknya juga diberikan panyondro untuk menghidupkan suasana. Panyondro ini melengkapi artikel saya sebelumnya yang berjudul panyondro / panyandra panggih Temanten Jawa terbaru yang sudah dilengkapi dengan terjemah bahasa Indonesia


Langsung saja berikut contoh panyandra/panyondro kirab kanarendran.

Namun sebelumnya perlu diketahui, adakalanya tidak semua perlu dibaca. Dalam prakteknya pranatacara harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan. Apa yang pas dengan keadaan yang berlangsung kala itu. Misal ketika menarasikan pengantin sudah tidak terlihat maka membacanya juga perlu dihentikan tidak perlu diteruskan lagi. 

TULADHA PANYANDRA KIRAB KANARENDRAN

Regu regeng hamrebawa, risang temanten sarimbit medhak saking palenggahan, pinapag Sang Suba Manggala arsa jengkar tilar pawiwahan, kinirapaken ngulati Wahyuning Jodho. Tedhak jleg ngampil amparan rukmi, ginarubyug para remaja putri sahengga Putri Dhomas, horeg reg kang samya hanjenengi, prasasat kadi Narendra siniwaka satuhu, arsa jengkar hangedhaton. Binayang-bayang sima kamanungsane, lir Dewaning Kabagyan arsa nganglang bawana nganglangi langening langen. Ramyang-ramyang katongton kenyare hanuksmeng sasi, tandha wus kasipatan Wahyuning Jodho jatmika, hamrebawa handayani warata sanggya kang hanjenengi kadya antuka gempalaning nugraha.

Sinten ta ing ngarsa asung tuladha ingkang minangka pra mukaning lampah, busana lir Panewu mantri, mataya ngrantaya kadi angganing Senopati, lah menika ta wamane Sang Suba Manggala ya Sang Manggala Suba. Dhasar pidegsa sarwa sambada, maksih mudha tumaruna wimbuh hambeg susila hanoraga, lebda reh wileting beksa, lampah ngrantaya anut rarasing wirama, hanggung kendel tindake sapecak mangu sapecak tumuleh tansah kadriya marang tembene winisudha sandeya manawa kasandhunging rata, kabentusing tawang-towang.

Sumambung ing wuntat lampahe Manggalayuda sakembaran. Kembar busanane, kembar dedeg piyadege, kembar warnane. Tinon saking mandrawa kadya jambe sinigar, pasuryane sumunar agilar-gilar, ngagem busana sarwi jenar, mila boten mokal lamun para kenya padha kumesar, handulu baguse satriya kembar.

Sawurinira ana dwi wanodya alit sakembaran, parandene wusa Katingal sumunar tejane, mencorong cahyane. Tinon saking mandrawa, glewo-glewo kadya golek kencana kang bisa tata janma inggihu punika warnanira patah sakembaran.

Sinigeg gantya kang cinarita, sinten ta ing madya mangun karsa, kang busana lir Raja kabiwadha, lah punika ta ingkang dados musthikaning karya, memaniking kandha jatining kang rinengga, Sang temanten kekalih Bagus ..... kaliyan Rara.....

Lumampah kekanthen asta, keket raket renggang gula kumepyur pu lut. Kekalihnya sajak lingsem nanging suka, hanggung reremetan asta, nggraita yen sadaya tamu boten wonten ingkang pirsa, kajawi pangendhaliwara. Dhasar wus dangu denira hanganti tumapaking pa hargyan. marma sakedhap-sakedhap hangunjal huswa hanggeget lathi, karana tansah kadriya kang ginupit mangke ing tilam sari.

Sawingkingnya sang pinanganten, lah punika ta Ibu juru paes dalah Ibu pangembaning putra temanten sekaliyan. Dhasar ibu juru paes prigel trampil angayahi jejibahan, angrengga amematut ameman tes sang pinanganten, mila asiling pakaryan satuhu datan nguciwani. Semanten ugi, Ibu pangembaning putra temanten ugi prigel lan pinter nata balewisma, momong putra datan kuciwa.

Ingkang kepareng tut wuri handayani lah menika ta ingkang hamengku karya sarimbit garwa, hangliring kanan kering, sajak sarju katuju ing penggalih, wuningani baludaging tamu mbalabar dumugi ing margi-margi, dene katingal sami suka marwata suka, bombonging penggalih prasasat boten kenging pinetha ing basa, sewu bagya dadya sajuga.

Sumber: Sarwanto MS., Wacana kawedhar, CV. Cendrawasih; Sukoharjo

-----------------------------------------------------------------

TERJEMAH BAHASA INDONESIA

-----------------------------------------------------

CONTOH PANYANDRA KIRAB KANARENDRAN

Dalam suasana yang gembira, mempelai akan meninggalkan kursi pelaminan, maka segera bergegas Sang Suba Manggala menjemputnya, mengantarkan mempelai yang baru saja selesai dinikahkan. Berjalan dengan diiring pendamping para remaja putri hingga Putri Dhomas, gemuruh para tamu yang hadir, bagaikan melihat raja yang sesungguhnya, yang akan meninggalkan singgasananya. Dengan dipayungi Dewi kebahagiaan, menandakan bahwa mereka memang telah berjodoh dan mendapatkan anugerah.

Siapa sih yang bertugas menjadi pembuka jalan yang berbusana bagaikan Panewu mantri, berjalan tertib bagaikan Senopati, lah itu rupanya Sang Suba Manggala ya Sang Manggala Suba. Dasar tegap dan serba sesuai, masih muda yang  bisa mengolah cara berpakaian dan fisiknya. Pintar dalam seni tari, berjalannya mengikuti irama, sebentar berhenti, menoleh  ke arah mempelai barangkali tersandung  atau terantuk batu.

Disambung berjalannya oleh Manggalayuda sakembaran. Kembar busananya, kembar tinggi badannya, kembar pula warna bajunya. Dilihat dari jauh seperti buah Jambe dibelah dua. Wajahnya bersinar, memakai busana serba kuning (disesuaikan), maka tidak mustahil para gadis penasaran, melihat ketampanan satriya kembar.

Di belakangnya ada dua gadis kecil kembar,, sudah terlihat langkahnya, bersinar cahayanya. Terlihat dari jauh, lemah gemulai jalannya bagaikan boneka emas yang bisa merias diri yaitu mereka dinamakan patah sakembaran.

Berganti yang diceritakan, siap sih yang di tengah membangun niat, berbusana bagaikan raja, ternyata itu to yang sedang menjadi permatanya pesta hari ini. Mereka adalah mempelai, pengantin laki-laki bernama Bagus.... dan pengantin putri bernama Rara....

Berjalan dengan bergandengan tangan, lengket bagaikan ada lem. Keduanya sepertinya malu tapi senang, saling meremas tangan, seakan menganggap bahwa tidak ada tamu yang melihat, kecuali pembawa acara. Dasar sudah lama menunggu acara hari ini. Mata sebentar -bentar memandang dan menggigit bibir, karena masih terbayang ketika saat malam pertama nanti.

Di belakangnya mempelai, ada Ibu juru rias/paes dan Ibu pangembaning putra temanten sekaliyan. Dhasar ibu juru rias ahli dengan tugasnya dalam merias pengantin, maka hasilnya tidak mengecewakan. Demikian juga, kedua ibu mempelai juga pintar menata rumah tangganya,  pintar juga membesarkan putra-putrinya sehingga tidak mengecewakan.

Berkenan mendampingi di belakang adalah belaiu bapak yang punya hajat beserta istri menoleh ke kanan dan kiri, sepertinya terharu dalam hati, melihat tamu yang membludak sampai ke jalan-jalan, terlihat gembira , rasa bangganya bagaikan tidak bisa diandaikan dalam kata, seribu kebahagiaan menjadi satu.

Demikian tadi contoh teks panyandra ketika pengantin kirab kanarendran. Untuk pengantar kirab, bisa melihat contoh teksnya di:

Contoh teks masuk acara pambagyoharjo dan kirab kanarendran 


Semoga membantu.






0 comments

Post a Comment